Kearifan Lokal (Local Wisdoms)

Sekolah Alam Pacitan (School of Exploring) terletak di Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia di mana mayoritas penduduknya adalah orang Jawa. Sekolah berusaha untuk melestarikan budaya asli dan tradisi turun-temurun di masyarakat sebagai bagian dari sumber belajar otentik. Sekolah secara terpadu melakukan berbagai kegiatan dan kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak, terutama masyarakat lokal dan lembaga pemerintah. Sekolah selalu menerapkan unsur kearifan lokal Jawa di sebagian besar kegiatan yang dilakukan. Tujuannya adalah untuk mendidik anak-anak dan masyarakat luas tentang pentingnya mempelajari nilai-nilai luhur budaya Jawa, mempromosikan budaya dan tradisi Jawa kepada komunitas domestik dan asing, dan untuk mempertahankan eksistensi keragaman tradisi budaya Jawa. Berikut ini adalah garis besar kearifan lokal Jawa yang telah diterapkan di Sekolah Alam Pacitan. Di sekolah kami, kami mencoba untuk mempertahankan dan melestarikan budaya Jawa dalam berbagai aspek, mereka aretradisi dan bahasa, permainan tradisional jawa, sastra, seni dan pertunjukan, pertanian, kuliner, agama, arsitektur, pakaian tradisional, dan kreasi dan kerajinan.
Sekolah Alam Pacitan menerapkan model program pendidikan berdasarkan kearifan lokal melalui penerapan kurikulum, kegiatan sekolah, dekorasi sekolah dan arsitektur. Ini adalah hal yang unik dan menarik di tengah kecenderungan praktik pendidikan yang mengabaikan budaya pendahulunya.
Sekolah Alam Pacitan menerapkan kearifan lokal budaya Jawa dalam sepuluh kategori yaitu dalam tradisi dan bahasa, permainan tradisional Jawa, sastra, seni dan pertunjukan, pertanian, kuliner, agama, arsitektur, pakaian tradisional, dan kreasi dan kerajinan. Berdasarkan hal-hal ini, kami berpegang pada konsep pendidikan sebagai proses rekayasa ulang sosial yang sebenarnya adalah instrumentasi budaya dalam melanjutkan pengembangan peradaban, yang berarti bahwa pendidikan selain memainkan peran utama dalam mendorong perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga tetap dalam fungsi dasarnya sebagai penjaga dan pelestari nilai-nilai kehidupan manusia. Nilai harus dilestarikan kepada generasi berikutnya melalui media pendidikan, dan diharapkan generasi berikutnya dari perubahan sosial tidak akan meninggalkan nilai / norma dan kearifan lokal yang berlaku di masyarakat.