Activity

Peringatan Hari Bumi Internasional 2018

Sabtu, 21 April 2018 Kontributor: Tri Wahyu Almadina

Sekolah Alam Pacitan – Hari Bumi Internasional yang jatuh setiap tanggal 22 April diperingati sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar. Mengutip dari laman National Geographic, Hari Bumi sendiri telah diperingati sejak tahun 1970. Bermula ketika seorang senator Amerika Serikat asal Wisconsin, Gaylord Anton Nelson yang resah ketika melihat kasus tumpahan minyak di Pesisir Pantai Santa Barbara, California pada tahun 1969. Sejak saat itulah dimulai aksi secara masif untuk mengkampanyekan isu-isu lingkungan hidup yang telah lama hilang dari agenda negara-negara di dunia. Kesadaran untuk lebih peduli terhadap kelestarian alam merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh siapa saja. Harus dipupuk sejak dini dan mulai dari diri sendiri. Sebagai manusia tentunya harus sadar bahwa bumi tempat kita hidup tidaklah selamanya bisa memanjakan keinginan kita. Bumi lama kelamaan akan rusak dan musnah. Tetapi harapan untuk mempertahankan kehidupan di bumi untuk anak cucu masa depan nanti, tentunya wajib kita lakukan dengan berbagai cara yang kita bisa. Pasca Revolusi Industri abad 18-19 bumi praktis mengalami degradasi. Pelan tapi pasti. Hingga saat ini, zaman yang serba modern, zaman globalisasi dan zaman dimana teknologi menguasai segala bidang, yang mana manusia selalu berusaha mengektraksi seluruh sumber daya alam tanpa batas yang hanya menyisakan kerusakan, polusi, pencemaran, bencana dan sampah. Manusia dapat memanfaatkan segala sesuatu di bumi dengan diikuti perilaku menjaga kelestarian dan mencegah dari segala kerusakan. Namun yang nampak hari ini adalah sebagian besar manusia hanya memanfaatkannya saja dan jauh dari usaha melestarikan sumber daya alam dan menjaga kondisi alam/lingkungan sekitar.

Memperingati Hari Bumi, Anak-anak Memunguti Sampah di Sungai

Anak-anak SD Alam Pacitan berusaha untuk turun langsung ke sungai untuk membersihkan tumpukan sampahsampah anorganik di salah satu titik Sungai Cuik, Jalan Gatot Subroto, Sidoharjo, Pacitan. Kegiatan ini didukung langsung oleh Dinas Lingkungan Hidup Kab. Pacitan yang turut membantu kegiatan bersih-bersih tersebut. Aksi ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan Hari Bumi tahun 2018 oleh anak-anak SD Alam Pacitan. Sehari sebelumnya anak-anak SD Alam Pacitan juga melakukan aksi bersih-bersih sampah di Kawasan Pantai Pancer Pacitan bersama anggota TNI dari KODIM 0801 Pacitan. Kegiatan bersih-bersih sungai tersebut juga dibarengi dengan beberapa kegiatan lain di waktu yang bersamaan, yaitu penandatanganan petisi ”Stop Buang Sampah di Sungai” serta pembagian suvenir dari material daur ulang, dan orasi Hari Bumi di Pasar Minulyo, Pacitan. Orasi Hari Bumi di Pasar Minulyo diharapkan bisa memantik warga yang mendengarnya untuk lebih mencintai lingkungan sekitar dan menjaga kelestariannya. Menghindari perilaku merusak demi kehidupan yang layak bagi anak cucu kelak. Selain itu, anak-anak SD Alam Pacitan juga akan melalukan siaran radio di Radio Swara Pacitan pada hari Senin, 23 April 2018. Siaran radio tersebut akan dibawakan oleh Kak Noya dan Kak Khansa yang keduanya duduk di kelas 2. Siaran tersebut bertujuan untuk mengingatkan masyarakat kembali tentang pentingnya menjaga alam dan linkungan serta menjaga diri dari perilaku merusak dan mengotori lingkungan. Dengan melakukan siaran ini diharapkan akan lebih menyebarkan semangat mencintai bumi secara lebih luas di masyarakat Pacitan khususnya.

Kegiatan bersih-bersih sungai dikomando langsung oleh Kepala Sekolah SD Alam Pacitan, Mr. Bangun Naruttama, S.Pd. AUD. Anak-anak dengan sigap dan penuh semangat memunguti sampah di sungai dan memasukkannya ke dalam kantong besar. Tumpukan sampah diangkut oleh petugas kebersihan dan dibuang di tempat pembuangan akhir sampah (TPAS). Tumpukan sampah di Sungai Cuik memang belum seberapa, tetapi jika dibiarkan lama-kelamaan akan mencapai titik kritis, sampah akan menebal dan susah dibersihkan. Tingkat pencemaran tinggi dan menjadi sumber wabah penyakit. Warga sendiri yang akan mengalami dampaknya. Perilaku membuang sampah di sungai harus secepatnya diberantas, salah satunya adalah dengan mengadakan perjanjian dengan warga sekitar sungai untuk berhenti membuang sampah si sungai. Petisi ”Stop Buang Sampah di Sungai”, mendapatkan respon positif dari warga sekitar Sungai Cuik. Beberapa rumah warga yang didatangi anakanak SD Alam Pacitan berjanji untuk tidak membuang sampah di sungai lagi dan bersedia menandatangani petisi yang di sediakan anak-anak. Setelah menandatangani petisi warga diberikan sebuah suvenir cantik berupa tanaman hias gantung organik yang ditanam pada botol plastik bekas. Suvenir tersebut diharapkan bisa menjadi inspirasi warga untuk mengurangi sampah plastik yang dibuang dengan memanfaatkan barang-barang bekas terutama botol plastik untuk digunakan sebagai hiasan dan barang kerajinan lainnya. Tujuan kegiatan ini antara untuk melatih sikap cinta lingkungan bagi anak-anak SD Alam Pacitan. Anak-anak merasakan langsung pengalaman membersihkan sungai yang tercemar. Anak-anak tahu apa yang selama ini menjadi penyebabnya. Kemudian anak-anak mampu mengambil solusi untuk mencegah masuknya sampah kembali ke sungai. Kegiatan ini juga sebagai antimainstream dan kritikan kepada pemerintah dan warga Pacitan. Di saat seluruh instansi dan sekolah yang berada di Kabupaten Pacitan merayakan peringatan Hari Kartini, maka SD Alam Pacitan lebih memilih untuk menyelamatkan bumi. Bukan bermaksud untuk mengesampingkan peringatan Hari Kartini, namun demi menyadarkan pemerintah dan masyarakat untuk lebih peduli dengan kondisi alam tempat kita hidup, maka tidak ada pilihan lain selain langsung turun ke sungai dan menyuarakan dari lubuk hati terdalam bahwa bumi tempat kita hidup dan berpijak ini tidak pernah tidur. Dia selalu hidup mengawasi setiap perilaku manusia. Segala perilaku yang merusak maka kerusakan itu akan kembali lagi kepada manusia baik yang merusak maupun yang tidak. Banjir Pacitan 2017 adalah bukti nyata. Maka apakah yang akan kita lakukan sekarang? Hiduplah untuk memanfaatkan alam seperlunya. Berfikirlah konservatif. Hiduplah sealami mungkin. Hiduplah untuk menjaga bumimu. Hiduplah senada dengan alam. Sisakan untuk anak cucu nanti.

Salam Bumi.

4 thoughts on “Peringatan Hari Bumi Internasional 2018”

  1. Leo, in his usual clothes, poked his head in the doorway. Not asleep? Come on—time to go. At the front door Marshall handed Leo an envelope, patted his shoulder, then shook Morts hand. I hope youll visit again soon, Mort. Talk to Leo about that camping trip.
    buy cake online When did you first wank?
    They ate out on the verandah as before, the few mosquitoes not putting a serious damper on things.

  2. Nice site.
    apakah negara indonesia sndiri melaksanakan hari bumi internasional ini?
    Apa keputusan peringatan yang dipakai ktka bertepatan dgn hari nasional juga, yaitu hari kartini?

    1. Terimakasih atas komentarnya. Di Indonesia hanya beberapa institusi saja yang melaksanakan peringatan Hari Bumi Internasional ini, tidak semuanya. Hal ini dikarenakan pemerintah sendiri tidak memerintahkan untuk pelaksanaan peringatan hari Bumi Internasional yang bertepatan setiap tanggal 22 April. Sedangkan bagi SD Alam Pacitan setiap tahun memperingati Hari Bumi dan juga peringatan Hari Kartini (jika waktu memungkinkan). Namun bagi kami lebih memprioritaskan untuk memperingati Hari Bumi karena untuk menumbuhkan semangat menjaga dan melestarikan eksistensi bumi dan lingkungan. Tahun ini karena tanggal 22 April bertepatan pada hari minggu maka peringatan Hari Bumi diajukan pada hari Sabtu, 21 April 2018 yang mana sebagian besar institusi sedang memperingati Hari Kartini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *